Sendirian Aja


amc1

Siapa yang tidak suka menyendiri?

Satu-satunya tempat dimana tidak ada yang menuntut kesempurnaan, tidak ada yang memaksakan nalar, tidak ada yang menghitung salah diatas “keakuan” mereka.

Berhentilah sudah, menuntut kesempuraanku. Diam sejenak.

Pergilah, Brian.

Masuklah kedalam lubang GOA yang jauh dari matahari sebagaimana orang-orang “Al-Kahfi” tertidur ratusan tahun menghindari kondisi tidak stabil.

Berdiamlah sejenak, pergi ke tempat tanpa manusia, tempat dimana tidak ada yang menganggu kemesraan bersama diri sendiri.

Haruskah kita menyendiri? Apakah bermanfaat menyendiri ? Bukan kah sebagian besar dari kita lahir sendirian dan menangis? Menangis yah? Apakah tanda tidak bahagia bagi sang Bayi lahir kedunia? Apakah bayi lebih tahu dengan sempurna isi dunia ini, sehingga dia menangis pada saat dilahirkan ?

Menarik untuk diperbincangkan, tapi sudah tidak ada banyak waktu lagi, Brian. Proyek kehidupan sebentar lagi akan selesai. Kita harus menyelesaikan. Tapi kita tahu, tidak bisa dalam kondisi sepert ini.

Carilah tempat istirahat dan bangunlah ketika kondisi sudah stabil.

Tidak semua yang diceritakan, melalu perjuangan, sebagian melalui penyerahan.
Tidak semua yang diceritakan, dicapai melalui kemenangan, sebagian melalui kekalahan.

Percayalah, kepedulian mereka hingga mengantarkan jenazahmu pada liang lahat. Setelah itu? Kita menyendiri selayaknya di lubang GUA.

Kini, mengapa tidak melatih menyendiri, sehingga tidak adak lagi tangis kaget ketika memasuki kesendirian yang hakiki. Tidak perlu kita menjadi bayi yang nangis karena tidak biasa dengan kondisi baru. Mari mengasingkan diri pada sebagian jeda waktu, dan pada waktu yang tepat.

Bagaimana dengan teman? Adakah teman yang lebih baik daripada diri sendiri? Ada.

Teman yang menemani kita merenung. Pada waktunya, saya dan kamu hanya diam menatap keindahan pemandangan lukisan Sang Pencipta.

Kita berbicara dengan diri kita sendiri, tanpa berbicara satu sama lain, meski ada kamu di samping. Itu lebih menguatkan, daripada saling bercerita dan saling menasehati dengan kalimat “sabar”.

Jika waktunya sudah tiba, kita berpisah dan kembali kepada diri masing-masing.
Dan kita sadari bahwa, kita tidak pernah bertemu meski bersebelahan. Karna kita menikmati berbicara dengan diri kita sendiri.

Advertisements

2 thoughts on “Sendirian Aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s