Bulan Bertumbuh Rasa


Ramadhan berjalan dengan lekas, meninggalkan orang-orang yang lalai terhadap kesuciannya, tapi sekaligus menanti dengan sabar untuk orang-orang bertaubat di Bulan ini. Tidak hanya bulan Ramadhan, keduabelas bulan saling berbicara, bergosip, dan berdiskusi untuk berhitung berapa jumlah orang-orang yang bertaubat di Bulannya. Meski Ramadhan selalu menjadi Bulan yang memenangkan jumlah orang bertaubat, namun Ramadhan pun sukses membuat orang semakin berdosa dengan melanggar larangan-larangan Tuhan-Nya.

Setidaknya itu yang aku pikirkan sejenak, ketika mengingat hari ini adalah hari ke 19 Ramadhan. Maka tidak lama lagi, pagi memasuki malam dan berpindah ke hari 20 di Bulan suci ini. Sambil melihat wajah lelahnya bekerja, aku mengecup kening Brian. Malam ini kami menyelesaikan Tarawih berjama’ah dirumah hanya berdua. Maklum, kami baru saja menikah sekitar setahun dengan rumah mungil yang bersahaja. Usai kami sholat tarawih, Brian selalu mencium keningku, dan disaat itu pula rasa cintaku selalu bertambah. Kadang-kadang tidak hanya kening, dia sering memberikan ciuman kecil kepada bibirku yang selalu gemetar ketika dia menghampiriku. Bukan aneh, sampai hari ini hatiku selalu berkata bahwa ini adalah mimpi. Bahwa ini adalah hal yang selalu aku impikan.

Brian selalu bahagia menyambut Ramadhan, terlebih saat 10 Hari terakhir. Ia memang sudah terbiasa i’tikap, bermalam dimasjid tanpa sehari pulang dan tanpa mencium keningku. Dan tidak lama lagi, Brian akan dimiliki oleh Bulan suci Ramadhan dan ia berhasil merenggut Brian-ku selama sepuluh hari penuh. Tapi tak mengapa, jika ia bisa membawaku dan keluargaku ke Surga-Nya, aku siap direnggut orang yang paling aku cintai.

Continue reading “Bulan Bertumbuh Rasa”

Pilihan


Di siang terik, matahari menjulurkan api yang begitu panas, cahaya yang begitu memilaukan. Saat aku meihatnya, aku harus menutupi dengan kelima jariku untuk menghalau sinar matahari. Tapi, bukan matahari yang sedang ingin kulihat. Tapi pesawat yang segera landing di Bandara Soekarno-Hatta. Aku memperhatikan dan membayangkan, dia melihatku serta melambaikan tangannya kepadaku. Ahh.. betapa indahnya. Oiah, aku wanita sederhana berumur 26 Tahun, sedang melanjutkan studi S2 disalah satu Universitas dalam negeri.

Aku segera bergegas, berlari penuh semangat untuk menunggu kehadiran kasihku. Empat tahun rindu ini ku tahan, ku simpan, ku rahasikan, ku tumbuh kembangkan hingga memuncak pada pertemuan hari ini. Aku telah tiba, diperkumpulan orang-orang yang sedang menunggu kedatangan para penumpang pesawat. Aku melihat sekelilingku, aku berharap bertemu dengan teman atau saudara, tapi disaat itu aku tidak menemukan hal yang menarik, kecuali pria berjenggot tebal dengan gengaman erat pada wanita yang bercadar. Hmmm menarik sekali pasangan tersebut, bisa membuatku memandang mereka dalam beberapa detik.

Kemudian, aku melihat dan memandang setiap wajah sambil berjinjit-jinjit dimana kasihku datang. Tidak sabar rasanya melihat wajah menyebalkan nan merindukan. Alis nya yang tebal, matanya agak sipit berwarna coklat, perawakan nya kecil, berjanggut dan berkumis tipis, dagu yang tajam serta kelakuan bodoh yang sering membuatku mencubit kecil tangannya yang mungil. Dia mungkin hanya 167 cm, sedangkan aku 164 cm. Dalam pasangan yang ideal, kami bukanlah salah satunya. Terlebih, umurku hanya berbeda setahaun.

Alamahoy, akhirnya aku menemukan dia! Tampaknya dia, membawa koper yang begitu besar ditambah tas ransel unik, hasil kepulangan dari Balikpapan. Tak tahan menahan rasa rindu aku teriakan, “ Hey Brian, jeleeek !!! Sini sinii”

Aku melihat dengan jelas, dia menatapku dengan penuh kasih. Dia berlari kearahku tanpa ia sadari, dia meninggalkan kopernya. Aku tidak peduli, aku segera mengejar dan memeluknya dengan erat. Aku berteriak persis di sisi telinga kirinya,” Sayang, aku rindu ! Sangat rindu ! melebihi rindu nya Adam dan Hawa setelah dipisahkan selama 400 Tahun!”

Continue reading “Pilihan”

Surat untuk Sang Sangunis


Jika ada dua orang, satu anak berumur 3 tahun dan satu Ibu berumur 30 tahun. Mereka berdua sedang duduk diantara rindangnya pepohonan di lapangan hijau, mereka duduk diantara sejuknya pohon pinus. Mereka berdua melihat sebuah batu yang melayang-layang tepat diatas mereka.

Pertanyaan yang sangat sederhana, siapakah diantara mereka  yang terkesima dan terkejut akan batu yang melayang? Kita semua sepakat bahwa Ibu berumur 30 Tahun yang akan terkejut melihat fenomena itu.

Bagimana dengan anak berumur 3 tahun tersebut? Dia bahkan asik mencari sesuatu didalam angannya sambil sesekali melihat bunga, seolah-olah mereka mengundang sang anak untuk bermain dipestanya.

Kejadian tersebut sangatlah filosofis, untuk membangkitkan keingintahuan orang dewasa, diperlukan sebuah keajaiban luar biasa. Berbeda dengan anak kecil, polos dan berhasrat untuk merasakan seluruh benda disekitarnya.

Inilah aku, seseorang dari masa depan yang ingin menceritakan kepada seluruh manusia apa yang akan terjadi di 5 tahun kelak. Perkenalkan, aku ëR.

Aku datang dari perusahaan yang mengembangkan Time Travel. Aku ingin menceritakan, kisahku dan pesan-pesanku teruntuk dunia dimasa kini. Kalian bisa merubah masa depan, sebelum terlambat. Terlebih, kepada kepribadian sanguinis yang ceria. Ada berita besar yang mampu menggelegarkan milky way. Bacalah pesanku dengan seksama, dan sedikit aku bumbui cerita yang kualami.

Continue reading “Surat untuk Sang Sangunis”

Meteor


Sepagi ini, aku masih meringkuk didalam lamunan kantuk. Senin, adalah hari paling iyuh yang dirasakan semua people. Bagaimana tidak, dua hari dimanjakan dengan keleyeh-leyehan yang membahana, membuat jiwa dan raga ini ingin melanjutkan keleyehan tersebut. Tapi tidak bisa, aku harus kembali kuliah untuk menimba air di sumur. Eh, maksudnya menimba ilmu.

Perkuliahan pukul 09.00 WIB, dan aku melihat keatas seraya berkata, “alamak’jang, masih jam 7 tapi rasanya matahari sudah melotot seolah-olah ingin berkata, “bergegaslah mandi, saatnya pro-vitamin D bekerja dengan optimal !”. Tidak lama dari lamunanku tentang matahari, mataku kembali terasa berat seperti diduduki oleh samudra angkasanya bima sakti. Bahkan beratnya, lebih dari sakit hati yang kurasakan nanti malam. Huh.

Aku terlelap beberapa menit, sampai jam dinding menemukanku tertidur dan membangunkan dengan dentuman-dentuman seperti peperangan prancis dan jerman. Bahkan, aku merasa lemas seperti Hitler yang mengetahui bahwa kaum Yahudi menghianati Jerman, serta menyebabkan kekalahan jerman terhadap perancis. Sama dengan perasaan dendam itu, Hitler berhasrat ingin membunuh seluruh ras Yahudi, meskipun ia sudah sadar sejak awal, hal tersebut mustahil. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengurangi secara drastis jumlah mereka. Begitupun dengan dendamku terhadap jam ini ! Meski aku sadar tidak bisa menghancurkan nya, tapi jam ini bisa aku putar agar terlihat tidak terlalu cepat waktu berlalu. Tapi…

Continue reading “Meteor”